Berakhirnya Perang Dingin dan runtuhnya komunisme Uni Soviet kerap dipandang sebagai penanda yang mengakhiri sejarah pertarungan ideologi serta menjustifikasi persandingan antara kapitalisme dan demokrasi liberal sebagai tatanan ekonomi-politik yang paling ideal. Demokrasi liberal dipercaya secara luas sebagai wahana yang dapat memberi ruang bagi kontrol atas watak eksploitatif dari kapitalisme serta kecenderungan dominasi kekuasaan negara.
Seturut dengan pandangan itu, sejak tahun 1990-an, dukungan finansial besar-besaran telah dikucurkan oleh lembaga-lembaga pembangunan internasional dan negara-negara donor untuk proyek demokratisasi di kawasan yang menjadi pusat-pusat kekuasaan otoriter di Asia dan Amerika Selatan serta di negara-negara bekas komunis di Eropa Timur. Indonesia adalah salah satu target dari proyek demokratisasi ini. Namun, apakah demokratisasi – tidak hanya di negara-negara pasca-otoriter dan pasca-komunis tetapi juga di negara-negara yang memiliki pengalaman demokrasi lebih awal seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara – telah menghasilkan tatanan sosial, ekonomi dan politik yang tidak hanya egaliter tetapi juga bebas dari berbagai bentuk eksploitasi dan dominasi yang berkaitan dengan tata produksi kapitalisme?
Kelas ini akan mendiskusikan politik demokrasi dalam hubungannya dengan kontradiksi-kontradiksi dalam masyarakat kapitalis. Secara khusus, kelas ini mengkaji pokok perhatian dan kritik dari para ilmuwan Kiri terhadap konsepsi liberalisme politik dan demokrasi, terutama dalam kaitannya dengan bagaimana ia membuka kemungkinan bagi lahirnya politik emansipatif yang dapat membebaskan dari tata produksi kapitalisme yang bersifat total. Selama ini terdapat tuduhan bahwa kritik Marxisme terhadap demokrasi liberal adalah manifestasi sikap anti demokrasi. Oleh karena itu, akan dibahas pula secara kritis pokok-pokok argumen para pemikir liberal tentang demokrasi ‘liberal’ yang dipahami sebagai konsepsi final yang menempatkan politik terpisah dari dan karena itu dapat menjadi kontrol terhadap kapitalisme.
Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan: apakah ada bentuk ideal dari demokrasi atau demokrasi liberal? Apakah tatanan demokrasi sama di semua tempat? Proses-proses sosial apa yang melahirkan tatanan politik demokratis? Apakah proses itu selalu sama di berbagai tempat? Apakah watak demokrasi di Asia dan Amerika Selatan memiliki kesamaan dari apa yang dapat ditemukan di negara-negara yang mengalami demokratisasi lebih awal seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kelas ini juga akan mendiskusikan manifestasi bentuk-bentuk demokrasi yang berbeda (borjuis/liberal, sosialis, iliberal, dsb) dalam kaitannya dengan variasi trajektori perkembangan kapitalisme di berbagai tempat, mitos-mitos demokrasi liberal serta kemungkinan-kemungkinan yang disediakan untuk proyek politik emansipatif. Secara spesifik, kelas ini juga akan membahas trajektori kapitalisme dan demokrasi di Indonesia serta mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan yang diberikan oleh ruang politik demokrasi di Indonesia dalam agenda-agenda proyek sosialis.
Tujuan
Kelas ini diselenggarakan untuk mencapai dua tujuan pokok, yakni:
Demokrasi Liberal: Mitos dan Kemungkinan Politik Emansipasi
Sesi ini akan mendiskusikan mengenai sejarah dan perkembangan politik demokrasi untuk mengidentifikasi proses-proses sosial dan kekuatan-kekuatan sosial yang berkontribusi melahirkan liberalisme ekonomi dan politik. Akan diulas pula pandangan-pandangan liberal yang cenderung memisahkan bahasan politik dari ekonomi serta kajian demokrasi dari analisis mengenai konstelasi kekuatan-kekuatan sosial yang dominan dalam tata produksi kapitalisme. Berpijak dari ulasan itu, sesi ini mengetengahkan bahasan atas perspektif Marxisme dalam mengurai mitos-mitos dan kemungkinan politik emansipasi dalam demokrasi liberal.
Materi Sesi 2
Trajektori Kapitalisme dan Variasi Tata Ekonomi-Politik
Pada minggu ini akan diulas hubungan antara trajektori perkembangan kapitalisme yang spesifik serta bentuk-bentuk kontradiksi kelas yang menyertainya dengan variasi tata ekonomi-politik di berbagai tempat. Mengapa lahirnya kapitalisme tidak selalu diiringi oleh terbentuknya tata politik yang liberal? Akan dibahas pula bentuk-bentuk rezim politik yang berbeda-beda dalam hubungannya dengan perkembangan kapitalisme di berbagai tempat. Mengapa pengalaman demokrasi di negara-negara Asia, khususnya Asia Tenggara, relatif berbeda dari yang dapat diamati di Eropa Barat dan Amerika Utara? Secara umum, demokratisasi di Asia Tenggara dicirikan oleh kehadiran berbagai bentuk illiberalisme seperti relatif absennya supremasi hukum, lemahnya perlindungan terhadap hak asasi manusia, korupsi yang merajalela serta jamaknya penggunaan kekerasan dalam politik. Proses sosial apa yang terjadi di Asia Tenggara sehingga melahirkan kecenderungan politik demokrasi yang spesifik?
Materi Sesi 3
Demokrasi dan Oligarki di Indonesia
Minggu ini akan mendiskusikan sejarah demokratisasi di Indonesia, terutama pada era Reformasi. Pertanyaan-pertanyaan yang akan dijawab antara lain: kekuatan-kekuatan sosial apa yang memungkinkan jatuhnya rezim otoriter serta memberi jalan bagi proyek demokratisasi di Indonesia sejak 1998? Mengapa jalur demokratisasi di Indonesia tidak disertai oleh konsolidasi liberalisme ekonomi dan politik? Bagaimana pendalaman illiberalisme politik terjadi dalam beberapa tahun terakhir? Pada sesi ini akan didiskusikan pula kelemahan-kelemahan perspektif pluralis liberal dalam studi tentang demokrasi di Indonesia, serta bagaimana pendekatan ini berkontribusi secara tidak langsung dalam proses ‘kemunduran demokrasi’. Di samping itu, akan diulas pula dominasi oligarki dalam ruang politik demokrasi di Indonesia serta mengidentifikasi peluang dan batasan pemajuan agenda-agenda proyek sosialis.
Materi Sesi 4
Demokrasi Sosial di Indonesia: Sebuah Proyek Revolusioner?
Sesi ini mengulas bagaimana ruang politik demokrasi di Indonesia yang didominasi oleh oligarki dapat menyediakan jalur bagi pencapaian agenda-agenda proyek politik sosialis. Bahasan ini akan berpijak dari pengalaman atas upaya serupa di berbagai tempat hingga melahirkan bentuk demokrasi sosial sebagai kompromi agenda sosialis terhadap liberalisme ekonomi-politik. Apakah demokrasi sosial medium atau tujuan dari proyek sosialis yang revolusioner? Proses sosial apa yang melahirkan model demokrasi sosial di beberapa tempat serta apa yang membuat model ini mengalami kemunduran pada era neoliberalisme, dan apa konsekuensi-konsekuensi ikutannya? Apakah perwujudan agenda-agenda demokrasi sosial merupakan proyek politik sosialis yang revolusioner dalam konteks Indonesia?
Kelas masih dibuka, kelas berlangsung mulai 14 Agustus 2022, setiap Minggu Jam 10:00 wib.
Biaya pendaftaran Rp 375.000, segera daftar sebelum 14 Agustus 2022.
Formulir Pendaftaran